<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan si Embung</title>
	<atom:link href="http://budisoegi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://budisoegi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 Oct 2011 04:59:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='budisoegi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catatan si Embung</title>
		<link>http://budisoegi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://budisoegi.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan si Embung" />
	<atom:link rel='hub' href='http://budisoegi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mengamati Tingkah Laku  Burung Peliharaan Bagian II</title>
		<link>http://budisoegi.wordpress.com/2010/06/29/mengamati-tingkah-laku-burung-peliharaan-bagian-ii/</link>
		<comments>http://budisoegi.wordpress.com/2010/06/29/mengamati-tingkah-laku-burung-peliharaan-bagian-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 03:21:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budisoegi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budisoegi.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[A. Burung Manyar Si Perajut Yang Ulet Dan Sabar Burung manyar merupakan salah satu burung yang mempunyai keahlian untuk merajut dalam membuat sarangnya. Sarang burung manyar ini sangat indah dipandang mata. Pada musim kawin, burung ini akan merajut bahan yang diperoleh untuk membuat sarang. Untuk membuat satu sarang, burung ini mungkin membutuhkan puluhan ribu bahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=29&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A.	  Burung Manyar  Si Perajut Yang Ulet Dan Sabar<br />
     Burung manyar merupakan salah satu burung yang mempunyai keahlian untuk merajut dalam membuat sarangnya.  Sarang burung manyar ini sangat indah dipandang mata.  Pada musim kawin, burung ini akan merajut bahan yang diperoleh untuk membuat sarang.  Untuk membuat satu sarang, burung ini mungkin membutuhkan puluhan ribu bahan yang tampaknya berupa tangkai bunga rumput-rumputan.  Di dalam kandang pemeliharaan, saya mencoba memberi  tangkai bunga rumput untuk dirajut oleh burung ini ketika musim kawin.  Ternyata saya kewalahan untuk menyediakan tangkai rumput yang dibutuhkan oleh burung ini.  Dalam waktu singkat, tangkai rumput yang disediakan sudah habis terjalin dan hasilnya hanya  rajutan yang sangat kecil.  Bagi saya sangat sulit mencari tangkai bunga rumput yang cukup banyak .  Setiap hari saya hanya mampu menyediakan kurang dari 100 tangkai bunga rumput, padahal burung ini seharinya mungkin membutuhkan ratusan bahkan ribuan tangkai rumput untuk di jalin.  Dari kebutuhan tangkai rumput tersebut, kita bisa membayangkan betapa ulet dan sabarnya burung ini mencari tangkai rumput kering dari suatu tempat untuk dibawa ke tempat dia akan membuat sarang.  Kalau sehari dia menjalin 200 tangkai rumput saja, berarti dia bolak balik sebanyak 200 kali dari tempat mendapatkan tangkai rumput ke tempat membuat sarangng.  Karena kewalahan menyediakan tangkai rumput, saya mengikuti saran teman untuk menyediakan tali raffia yang telah dicabik cabik, dan dalam menyediakan cabikan tali rafia ini, saya masih meminta bantuan pembantu  agar seharinya saya bisa menyediakan ratusan cabikan tali rafia.  Dengan disediakan cabikan tali rafia dalam jumlah yang cukup banyak, seharian burung tersebut menjalin tali-tali tersebut untuk membuat sarangk. Dalam sehari, burung tersebut hanya istirahat sejenak, terutama di siang hari dan istirahat makan.  Yang saya kagumi adalah dia menjalin sarangnya hanya menggunakan paruhnya.  Gerakan jalinannya seperti  kalau kita menjahit menggunakan jarum tangan.  Tampaknya, tali raffia yang saya sediakan tidak mencukupi untuk membuat sangkar pada saat musim kawin, sehingga sarang terbentuk kurang sempurna dan tidak dapat digunakan untuk tempat bertelur.  Kalau masa kawin sudah lewat, burung manyar tidak akan menjalin tali rafia yang kita sediakan.  Tali raffia tampaknya juga kurang cocok untuk pembuatan sangkar secara sempurna, karena sarang burung manyar yang berupa lorong yang berliku membutuhkan bahan yang sedikit agak kaku sehingga bisa digunakan untuk membuat lengkungan/lorong berliku.<br />
     Burung manyar tampaknya mempunyai persyaratan terhadap warna bahan yang digunakan untuk membuat sarang.  Di alam, burung ini menggunakan rumput kering sebagai bahan untuk membuat sangkarnya sehingga dia hanya tertarik menggunakan cabikan tali rafia berwarna kuning sebagai bahan pembuat sangkar.  Hal ini saya ketahui ketika saya memberikan cabikan tali raffia dari berbagai warna tali  dengan harapan nanti akan terbentuk sarang yang lebih indah karena sarangnya berbahan berbagai warna, tetapi ternyata hanya tali raffia berwarna kuning yang dipilih oleh burung manyar.  Saya mencoba hanya member tali raffia berwarna biru, atau merah abu-abu, coklat atau hijau tua saja, ternyata bahan yang saya berikan tidak digunakan untuk membuat sarangk oleh burung manyar.  Selain warna kuning, cabikan tali raffia yang masih bisa diterima oleh burung manyar untuk membuat sarang adalah yang berwarna hijau muda.<br />
     Selain  sabar  dan ulet, burung manyar tidak kenal putus asa.  Selama proses pembuatan sarangnya, burung parkit sering merusak sarang  tersebut  dengan cara menarik-narik atau merusak  jalinan yang telah terbentuk.  Jalinan yang dirusak oleh burung parkit ini akan segera diperbaiki oleh burung manyar, kejadian ini terus berulang dan tanpa mengenal  lelah, burung manyar selalu memperbaiki sangkar yang di rusak.<br />
      Sampai saat ini saya belum mampu  menyediakan bahan yang yang dibutuhkan oleh burung manyar untuk membetuk sarang yang sempurna, sehingga sampai saat ini saya masih belum berhasil mengembangbiakkan burung manyar.  Ke depan mungkin setiap hari secara bertahap saya harus membuat stok cabikan tali rafia agar ketika burung manyar memasuki masa birahi/musim kawin, saya bisa menyediakan tali raffia dalam jumlah yang cukup dan saya masih berharap tali rafia dapat digunakan untuk membuat bentuk  lekukan sarang burung manyar.  Tanda burung manyar memasuki masa kawin mudah dikenali dari suara lengkingan yang memekakkan telinga.  Pasa musim kawin, burung ini akan mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga kita dan tanda tersebut merupakan peringatan bagi saya untuk segera menyediakan bahan untuk membuat sangkar.</p>
<p>B.	Burung Kenari Ambon<br />
     Saya menyebut burung berwarna hitam dengan paruh lebar (segitiga) ini sebagai burung  kenari ambon karena ketika membeli burung ini, penjualnya menyebut burung tersebut sebagai burung kenari  ambon.  Burung ini mempunyai warna lurik kemerahan di dadanya.  Ditempat pemeliharaan, pakan utamanya adalah pisang kepok, papaya, ulat (serangga) dan  pelet pakan burung.  Prilaku makan burung ini berubah ketika dipelihara bersama dengan burung-burung lainnya.  Di alam bebas,  paruh burung ini tidak memungkinkan makan jagung muda, karena jagung muda di pohon jagung dibungkus dengan kelobotnya yang tidak mungkin ditembus oleh paruh burung ini, tetapi dalam pemeliharaan bersama berbagai burung, ternyata burung ini juga mau makan jagung muda.  Jagung yang dimakan adalah jagung yang sebelumnya sudah dimakan oleh parkit.  Burung ini tidak akan makan jagung muda yang masih utuh.   Hal tersebut diduga karena pparuhny  kurang kuat memakan jagung yang utuh.   Kalau jagung sudah dimakan oleh parkit maka bagian yang keras dari jagung sudah tidak ada jadi burung kenari ambon mudah memakan jagung tersebut.  Dibandingkan denganburung kutilang dan jokjok, burung kenari ambon lebih liar atau masih takut kepada pemeliharnya.  Ini bisa dilihat  ketika diberi pakan ulat hongkong.  Burung Kutilang dan Jogjog mau mengambil ulat yang kita pegang tanpa takut-takut, tetapi burung kenari ambon dengan cepat menyambar ulat yang ada ditangan kemudian dibawa pergi.  Padahal burung kenari ambon yang diberi pakan ulat adalah burung kenari ambon   generasi kedua atau burung yang terlahir dari orang tua yang dilahirkan dikandang pemeliharaan.<br />
     Hal yang menarik dari prilaku sosial burung ini adalah rasa kekeluargaan yang tinggi.  Saya sebut rasa kekeluargaan karena yang memberi makan anak burung bukan hanya orang tua burung tersebut tetapi juga burung dewasa lainnya yang terlahir lebih duluan (kakaknya).  Kalau jenis burung   lain biasanya yang memberi makan anak burung adalah hanya orang tuanya. Hal lain yang  terlihat dari adanya rasa kekeluargaan ini adalah ketika anak burung dilatih terbang.  Kalau anak burung ini berhasil terbang, semua anggota keluarga burung riuh seolah-olah ikut senang anak burung tersebut berhasil terbang, tetapi kalau  anak burung tersebut tampak akan jatuh ketika belajar terbang, ramai-ramai mereka terbang mendorong anak burung tersebut agar tidak jatuh.  Ini prilaku yang menakjubkan dari dunia burung kenari ambon<br />
Di alam bebas, burung ini tampaknya bersarang di dalam lubang yang ditemuinya.  Saya katakan lubang yang ditemuinya bukan lubang yang dibuatnya karena struktur paruh burung ini tidak memungkinkan membuat lubang sendiri.  Dugaan burung ini bersarang di lubang  berdasarkan hasil pengamatan di kandang bersama.  Dari tiga jenis tempat bersarang yang disediakan, burung kenari ambon memilih sarang parkit yang berupa rumah-rumahan yang pada bagian atas, di bawah atapnya ada lubang tempat keluar-masuk burung.  Tempat bersarang berupa bakul kecil dan anyaman berbentuk mangkuk yang disediakan di dalam kandang bersama tidak pernah digunakan oleh burung ini sebagai tempat bersarang.  Berbeda dengan burung parkit yang dapat langsung menempati sarangnya, burung kenari ambon mengumpulkan jerami di dalam sarang sebelum menggunakan sarang sebagai tempat meletakkan telurnya.<br />
Dlam hal perkawinan, burung ini dapat melakukan kawin silang dengan burung keling yang merupakan burung dari jenis berbeda.  Burung kenari ambon mempunyai bulu hitam dengan warna merah di dada, paruh seperti bentuk segitiga dengan warna paruh kuning dan kokoh.  Burung keling berwarna hitam legam, mata merah dan paruh runcing seperi paruh burung kutilang.   Persilangan ke dua jenis burung ini menghasilkan burung berwarna hitam legam dengan warna merah di dada, paruh runcing tetapi matanya tidak merah.  Seperti halnya dengan burung yang lain, burung ini hanya menghasilkan dua butir telur pada satu periode peneluran.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budisoegi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budisoegi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budisoegi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budisoegi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/budisoegi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/budisoegi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/budisoegi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/budisoegi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budisoegi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budisoegi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budisoegi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budisoegi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budisoegi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budisoegi.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=29&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budisoegi.wordpress.com/2010/06/29/mengamati-tingkah-laku-burung-peliharaan-bagian-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49e66dd2ba889069840cd73307236312?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">budisoegi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemanfaatan Tanaman Perangkap Untuk Pengendalian Hama</title>
		<link>http://budisoegi.wordpress.com/2009/10/27/pemanfaatan-tanaman-perangkap-untuk-pengendalian-hama/</link>
		<comments>http://budisoegi.wordpress.com/2009/10/27/pemanfaatan-tanaman-perangkap-untuk-pengendalian-hama/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 02:16:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budisoegi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budisoegi.wordpress.com/2009/10/27/pemanfaatan-tanaman-perangkap-untuk-pengendalian-hama/</guid>
		<description><![CDATA[Hama masih menjadi kendala utama dalam budidaya berbagai jenis tanaman. Sampai saat ini, petani banyak yang masih menggunakan insektisida untuk mengendalikan berbagai jenis hama yang merusak tanamannya, terutama untuk tanaman yang masih belum tersedia varietas yang tahan terhadap hama hama tersebut. Pengendalian menggunakan insektisida banyak menimbulkan masalah antara lain adanya pencemaran lingkungan oleh insektisida, bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=27&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Hama masih menjadi kendala utama dalam budidaya berbagai jenis tanaman.  Sampai  saat ini, petani banyak yang masih menggunakan insektisida untuk mengendalikan berbagai jenis hama yang merusak tanamannya, terutama untuk tanaman yang masih belum tersedia varietas yang tahan terhadap hama hama tersebut.  Pengendalian menggunakan insektisida banyak menimbulkan masalah antara lain adanya pencemaran lingkungan oleh insektisida, bisa menyebabkan keracunan bagi petani pengguna insektisida, musnahnya musuh-musuh alami hama  hama yang diharapkan dapat menekan populasi hama secara alamiah, bisa menyebabkan serangga menjadi tahan terhadap insektisida sehingga kita harus menggunakan insektisida dengan dosis yang lebih tinggi, dan dapat menyebabkan timbulnya risurjensi hama atau meningkatnya populasi hama setelah penggunaan insektisida.
</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau kita mengamati lingkungaan disekitar kita,  kadang-kadang kita bisa melihat pada suatu tanaman populasi hamanya lebih tinggi dibandingkan tanaman lainnya yang juga terserang oleh hama tersebut.  Hal ini  berarti suatu jenis tanaman lebih menarik bagi hama untuk makan dan meletakkan telurnya.  Tanaman yang lebih menarik bagi hama tersebut  dapat dimanfaatkan sebagai tanaman peragkap untuk mengendalikan hama pada tanaman utama yang kurang disukai dibandingkan dengan tanaman perangkapnya.  Tanaman utama ini apabila di tanam tanpa tanaman lain yang lebih disukai oleh hama akan diserang oleh hama tersebut. Sebagai contoh, apabila  kita menanam jagung, kedelai, kacang gude dan kacang hijau, maka akan terlihat bahwa <em>Helicoverpa armigera</em>  (penggerek buah kapas/tongkol jagung) yang merupakan hama utama pada ke empat jenis tanaman tersebut akan terkonsentrasi pada kacang gude dan jagung.  Populasi telur hama ini pada jagung lebih banyak dibandingkan dengan pada kacang gude.  Jadi pada kasus tersebut, tanaman jagung dapat dimanfaatkan sebagai tanaman perangkap untuk mengurangi serangan hama pada tanaman kedelai.  Berdasarkan pengalaman, penamanan jagung dapat melindungi serangan <em>H.armigera</em> pada tanaman kedelai  sampai dengan jarak 14 m dari tanaman jagung.  Jadi untuk pengendalian <em>H.armigera</em> pada tanaman kedelai, kita dapat melakukan tumpang sari antara jagung dan kedelai dengan jarak antara tanaman jagung dan kedelai maksimal 14 m.  Pada tanaman jagung, hama tersebut meletakkan telurnya pada rambut jagung dan umumnya hanya satu ulat yang dapat mencapai instar 3 karena adanya kanibalisme ulat pada tongkol jagung.  Ulat ini hanya memakan bagian ujung dari tongkol jagung sehingga tidak menyebabkan kerugian yang berarti pada tanaman jagung.  Karena ulat ini hanya meletakkan telurnya pada rambut jagung yang masih segar, maka dalam memanfaatkan tanaman jagung sebagai tanaman perangkap untuk mengendalikan <em>H. armiger a </em>dalam budidaya kedelai, maka penanaman tanaman jagung diatur sedemikian rupa agar pada saat tanaman kedelai mencapai stadium yang disukai oleh hama ini yaitu stadium pembungaan sampai pengisian biji, tanaman jagung berada dalam fase berbunga.   Karena umur bunga jagung tidak lama, maka kita harus menanam tiga varietas jagung yang  umur berbunganya berbeda 10-15 hari dalam satu lubang apabila kita akan mengendalikan hama ini pada tanaman kedelai.  Dengan cara yang sama, tanaman jagung dapat dimanfaatkan untuk pengendalian <em>H. armigera</em> pada tanaman kapas .  Seandainya kita akan mengendalikan populasi hama ini agar pada musim tanam yang akan datang populasinya rendah, maka kita cukup mengendalikan hama ini menggunakan insektisida pada tanaman jagung yang populasi tanamannya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman kedelai  sehingga biaya pengendalian menggunakan insektisida akan rendah.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Contoh lainnya adalah kalau kita mengamati  tanaman jambu biji/kelutuk yang ditanam bersebelahan dengan belimbing, maka akan terlihat buah jambu biji relatif bersih dari serangan lalat buah.  Jadi kalau  kita akan membudidayakan jambu biji secara komersial,  kita dapat menanam belimbing diantara tanaman jambu biji untuk mengurangi kerugian akibat serangan lalat buah.  Berbeda dengan pemanfaatkan tanaman jagung sebagai tanaman perangkap dimana tanaman jagungnya masih dapat dipanen, dalam kasus tanaman belimbing sebagai tanaman perangkap, kita mengorbankan tanaman belimbing untuk menyelamatkan tanaman jambu biji.  Kalau kita masih ingin memanen belimbingnya, maka sebagian buah belimbing dibungkus, sedangkan buah lainnya dalam satu pohon dibiarkan terbuka supaya masih dapat digunakan sebagai perangkap lalat buah.  Dalam kasus belimbing sebagai tanaman perangkap, buah-buah belimbing yang jatuh ke tanah karena busuk terserang lalat buah harus kita bakar atau kubur dalam tanah agar ulat lalat buah tidak sempat menjadi pupa atau lalat buah dewasa.
</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh tanaman perangkap lainnya dapat dilihat  apabila kita mengamati populasi hama pengisap polong kedelai, <em>Nezara viridula</em> pada tanaman kedelai, kacang hijau, kacang panjang dan <em>Sesbania</em> sp. yang merupakan tanaman inang hama tersebut .  Pada tanaman-tanaman tersebut, akan terlihat bahwa sebagian besar populasi hama pengisap polong tersebut akan  terkonsentrasi di tanaman <em>Sesbania</em> sp.  Jadai kalau kita akan mengurangi kerugian hasil kedelai akibat serangan pengisap polong ini, kita dapat menanam Sesbania sp. disekeliling  tanaman kedelai.  Penanaman <em>Sesbania</em> sp. ini diatur waktunya agar pada saat kedelai berbunga, tanaman <em>Sesbania</em> sp. juga berbunga.  Jadi dalam kasus ini, tanaman <em>Sesbania</em> sp harus ditanam lebih awal dibandingkan penanaman kedelai.  Kalau kita akan menurunkan populasi hama ini agar populasinya rendah pada musim tanam yang datang, maka kita cukup mengendalikan populasi hama ini menggunakan insektisida pada tanaman <em>Sesbania </em>sp. sehingga kita bisa menghemat biaya pengendalian.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Berbagai tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman perangkap  dalam pengendalian hama dapat kita baca diberbagai hasil penelitian tentang tanaman perangkap yang telah diterbitkan.  Tanaman perangkap tidak harus dari species yang berbeda, karena tanaman perangkap dapat berasal dari spesies    yang sama tetapi tanaman tersebut lebih menarik bagi hama dibandingkan dengan tanaman lainnya atau dengan kata lain tanaman tersebut lebih disukai oleh hama sebagai tempat untuk makan dan bertelur dibandingkan dengan tanaman lainnya.   Manfaat penggunaan tanaman perangkap dalam pengendalian hama antara lain dapat mengurangi penggunaan Insektisida dalam pengendalian hama sehingga derajat kesehatan petani meningkat, biaya produksi menjadi lebih rendah, mengurangi pencemaran lingkungan, memberi  kesempatan musuh alami mengendalikan hama secara alamiah karena musuh alami tidak punah karena penggunaan insektisida yang intensif dalam pengendalian hama.  Selain itu, tanaman perangkap dapat dimanfaatkan untuk melakukan konservasi musuh alami sehingga musuh alami dapat berperan dalam pengendalian hama.  Penggunaan tanaman perangkap untuk pengendalian hama kurang dimanfaatkan oleh petani mungkin karena perbedaan waktu tanam merepotkan bagi petani dan petani kurang tertarik karena hama masih tampak banyak di lingkungan pertanaman utamanya  walaupun sudah tidak merugikan tanaman utamanya.  Petani umumnya sudah terbiasa mengendalikan hama dengan menggunakan insektisida yang dapat menurunkan  populasi hama dengan  sangat nyata dan cepat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budisoegi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budisoegi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budisoegi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budisoegi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/budisoegi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/budisoegi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/budisoegi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/budisoegi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budisoegi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budisoegi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budisoegi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budisoegi.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budisoegi.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budisoegi.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=27&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budisoegi.wordpress.com/2009/10/27/pemanfaatan-tanaman-perangkap-untuk-pengendalian-hama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49e66dd2ba889069840cd73307236312?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">budisoegi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengamati Tingkah Laku Burung Peliharaan</title>
		<link>http://budisoegi.wordpress.com/2009/10/13/mengamati-tingkah-laku-burung-peliharaan/</link>
		<comments>http://budisoegi.wordpress.com/2009/10/13/mengamati-tingkah-laku-burung-peliharaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 03:37:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budisoegi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budisoegi.wordpress.com/2009/10/13/mengamati-tingkah-laku-burung-peliharaan/</guid>
		<description><![CDATA[Bagian I Memelihara burung bisa menambah pengetahuan kita paling tidak tentang prilaku burung, adaptasi burung terhadap lingkungan, dan melihat kebesaran sang Pencipta. Banyak yang tidak kita ketahui mengenai tingkah laku burung di alam karena kita tidak bisa melihat keseharian burung tersebut di alam. Sebagian tingkah laku burung tersebut dapat kita lihat apabila kita memeliharanya. Aktifis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=26&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Bagian I
</p>
<p style="text-align:justify;">     Memelihara burung bisa menambah pengetahuan kita paling tidak tentang prilaku burung, adaptasi burung terhadap lingkungan, dan melihat kebesaran sang Pencipta.  Banyak yang tidak kita ketahui mengenai tingkah laku burung di alam karena kita tidak bisa melihat keseharian burung tersebut di alam.  Sebagian tingkah laku burung tersebut dapat kita lihat apabila kita memeliharanya.  Aktifis lingkungan pencinta burung tentu tidak setuju kita memelihara burung karena akan menyebabkan kepunahan burung akibat penangkapan burung di alam oleh para penjual burung.  Pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar, terutama apabila kita memelihara burung yang diperkirakan dapat dikembangbiakkan, atau kita memelihara burung dengan niat mencoba mengembangbiakkannya.  Dengan dasar berpikir seperti hal tersebut, saya memelihara berbagai jenis burung , dengan tiap jenis burung minimal ada 4 ekor  bahkan kalau burung tersebut mudah diperoleh dipasaran dan harganya tidak mahal, saya melepas minimal 16 ekor burung ke dalam kandang yang saya miliki.  Dengan memelihara berbagai jenis burung dalam kandang berukuran 5,0m x 3,5m x 3m saya bisa mengamati interaksi antar berbagai jenis burung, adaptasi burung terhadap pakan, prilaku setiap jenis burung, prilaku komunitas burung.  Gangguan yang dihadapi dalam memelihara burung ini adalah tikus yang memakan telur dan anak burung sehingga bisa menurunkan populasi burung.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Ada hal hal yang menarik ketika kita memelihara berbagai jenis burung dalam dalam satu kandang.  Ketika menjelang pagi, ada kicauan/bunyi burung yang seolah-olah menjadi komando bagi burung-burung lainnya  untuk bangun atau berkicau/berbunyi.  Saya duga ini dilakukan oleh burung Gelatik karena suara burung lainnya tidak seperti suara burung komando tersebut.  Semula saya hanya bisa menduga karena pemandangan masih remang-remang sehingga dari jauh kita tidak bisa melihat jenis burung apa yang berbunyi.  Karena saya menduga hal tersebut dilakukan oleh burung Gelatik, maka saya mencoba mengamati burung Gelatik lebih intensif pada hari Saptu  karena pada hari Saptu saya libur sehingga bisa mempunyai waktu untuk mengamati burung lebih lama.  Ternyata dugaan saya benar bahwa burung komando tersebut adalah burung gelatik.  Saya menyebut bunyi burung tersebut sebagai bunyi burung  komando karena setelah mendengar bunyi burung tersebut semua burung berbunyi. Sebelum burung gelatik berbunyi,  walaupun sebelumnya ada bunyi dari burung deruk, burung puter,  perkutut, dan burung yang lainnya, tidak ada bunyi riuh dari burung burung lainnya.  Tetapi apabila burung Gelatik yang saya sebut sebagai burung komando tersebut berbunyi, dengan seketika burung Parkit, Love Bird, burung Kutilang, burung Jogjog, burung Keling, burung  Kenari Ambon, burung Manyar, Perkutut, Deruk dan burung Puter berbunyi sehingga suasana kandang menjadi riuh.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Dari memelihara berbagai jenis burung ini, saya bisa mengetahui bahwa burung Perkutut tidak bisa dipelihara bersama burung Kutilang karena setiap akan berltelur selalu diganggu oleh Kutilang.  Kutilang mengganggu perkutut dengan jalan mematu-matuk Perkutut ketika Perkutut mendekam di sangkar yang saya sediakan untuk tempat bertelur.  Burung Kutilang tidak dapat disatukan dengan burung Parkit karena burung Parkit akan mematuk matuk burung Kutilang ketika mendekam disangkar untuk meletakkan telur.  Seandainya burung Kutilang bisa bertelur, maka akhirnya telur itu jatuh dari sangkarnya sehingga pecah.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Burung Gelatik, Parkit, Love bird, burung Keling, dan Kenari Ambon mempunyai tempat bertelur yang sama yaitu membutuhkan tempat bertelur berupa lubang.  Sehingga apabila kita memelihara burung-burung tersebut secara bersama, kita harus menyediakan tempat bertelur yang banyak agar tidak saling mengganggu.  Burung deruk dan tekukur juga mempunyai tempat bertelur yang sama yaitu berupa bakul kecil yang akan diisi dengan ranting-ranting kecil atau potongan kawat yang terdapat di kandang. Dalam kandang pemeliharaan ini, burung  Perkutut tampaknya mempunyai kesamaan tempat bertelur dengan burung kutilang.
</p>
<p style="text-align:justify;">Si Parkit Yang Usil
</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun telah banyak disediakan tempat bertelur , burung Parkit masih juga berebut tempat dengan burung Gelatik.  Perebutan tempat ini cukup lucu kalau kita  amati.  Burung Gelatik dengan susah payah membawa jerami/rumput kering  yang disediakan di dalam kandang tersebut ke sangkar tempat bertelur, tetapi burung Parkit akan masuk ke dalam sangkar untuk mengeluarkan jerami/rumput kering dari dalam sangkar.  Kejadian ini terus berulang apabila kedua burung tersebut berebut tempat bertelur, padahal masih banyak tempat bertelur yang masih kosong.  Perebutan tempat ini akan berakhir kalau si Parkit sudah <sup>&#8220;</sup>bosan&#8221; atau Gelatik pindah ke sangkar yang lain, dan Parkit kembali ke sangkar semula. Kejadian yang yang saya sebutkan di atas  menurut saya karena burung Parkit adalah burung yang suka iseng/usil. Saya menyimpulkan demikian karena sebelumnya pasangan Parkit tersebut ada di sangkar yang lain, tapi begitu melihat Gelatik membawa jerami/rumput kering, langsung Parkit mendatangi sangkar yang sedang diisi jerami.  Parkit mengeluarkan jerami dari dalam sangkar karena Parkit tidak membutuhkan jerami/rumput sebagai tempat bertelur.  Di alam bebas mungkin Parkit bertelur di lubang-lubang yang dibuat/ada di pohon besar.  Selain mempunyai sifat usil/iseng, Parkit mempunyai sifat ingin tahu kalau menurut bahasa manusianya.  Saya menyebutkan Parkit mempunyai sifat ingin tau karena setiap saya memasukkan benda/barang baru ke dalam kandang, burung yang pertama mendatangi benda/barang baru tersebut adalah burung Parkit.  Keisengan parkit dapat membahayakan jiwanya, terutama apabila burung Parkit berbuat iseng terhadap sangkar Manyar yang dibuat oleh burung Manyar dari sobekan tali plastic/rafia yang saya sediakan.  Ketika mendatangi sangkar yang dibuat oleh burung Manyar, burung Parkit melepas rajutan tali raffia yang dibuat oleh burung Manyar dengan cara menarik-narik jalinan /rajutan tersebut menggunakan paruhnya, kemudian burung parkit tersebut sering bergelantungan di tali raffia yang telah diurai, akibatnya leher parkit terjerat tali raffia yang berakibat kematian Parkit apabila tidak sempat tertolong.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Selain prilaku iseng, pola makan burung ini yang dipelihara di kandang juga mengalami perubahan.  Kalau melihat paruhnya, burung Parkit merupakan burung pemakan biji-bijian yang kulitnya harus dipisahkan dari bijinya misalnya jawawut/milet.  Tetapi ketika dipelihara di kandang, burung ini juga memakan jagung muda dan ulat.  Dalam kehidupan aslinya, saya sukar membayangkan Parkit dapat memakan jagung karena biji jagung tertutup oleh kelobot jagung berlapis-lapis.  Selain burung ini memakan jagung yang disediakan di kandang, burung ini juga memakan ulat yang disediakan untuk burung pemakan ulat seperti burung Kutilang, Jogjog, burung Keling dan burung Kenari Ambon.  Pada awal dipelihara, burung burung tersebut tidak memakan jagung dan ulat, tetapi karena kedua pakan tersebut tersedia di kandang, maka lama-kelamaan burung Parkit memakan jagung dan ikut memakan ulat yang disediakan untuk burung pemakan ulat.
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">Si Gelatik Yang Liar, Mandiri Dan Berubah Penampilan
</p>
<p style="text-align:justify;"> Burung gelatik tampaknya bukan jenis burung yang mudah jinak, sehingga walaupun  telah beranakpinak beberapa generasi di kandang, masih saja tidak bisa didekati oleh manusia.  Hal ini menyulitkan penangkapan gelatik ketika kita akan melepas gelatik ke alam bebas pada saat  populasi burung Gelatik di kandang sudah tinggi.  Kesulitan menangkap Burung Gelatik   karena gelatik berada diantara sangkar-sangkar yang tinggi.  Gelatik akan di lepas ke alam bebas ketika polulasinya sudah tinggi, tetapi karena burung ini sukar ditangkap maka penulis belum pernah melepas burung ini ke alam bebas.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Saya menyebut burung Gelatik sebagai burung yang mandiri karena prilaku anak burung ini berbeda dengan prilaku anak burung lainnya yang ada di kandang.  Anak burung gelatik tidak meminta makan dari induknya ketika sudah keluar dari sangkar, dan induk gelatik tidak memberi makan anaknya yang telah keluar dari sangkarnya.  Anak burung lainnya, tetap meminta makan dari induknya ketika sudah keluar dari sangkarnya, demikian pula induknya selalu memberi makan anaknya yang telah keluar dari sangkarnya.  Karena prilaku anak gelatik yang tidak meminta makan dari induknya ketika sudah keluar dari sangkar, maka saya menyebut burung Gelatik sebagai burung yang mandiri.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Berbeda dengan burung-burung lainnya yang ada didalam kandang, burung gelatik mengalami perubahan warna dari anakan ke dewasa.  Ketika masih anakan, burung Gelati kecil ini berwarna kecoklatan.  Secara bertahap warna burung ini berubah ketika akan menjadi dewasa.  Mula-mula warna anak burung yang akan menjadi dewasa berubah ke abu-abuan, waran ini berubah menjadi warna abu-abu ketika menjadi dewasa.  Selain berubah warna menjadi abu-abu, pada bagian kepala ada warna hitam dan putih di bagian wajahnya yang membuat burung ini tampak gagah.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Selama dipelihara di kandang, burung Gelatik mengalami perubahan pola makan, yaitu dari pemakan biji-bijian yang harus dipisahkan dulu dari kulitnya seperti beras dan jawawut, burung ini juga memakan jagung muda, terutama makan jagung  yang telah dimakan oleh Parkit.  Di Alam, saya yakin burung ini bukan burung pemakan jagung muda karena di alam, biji jagung dilindungi oleh kelobot jagung</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budisoegi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budisoegi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budisoegi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budisoegi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/budisoegi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/budisoegi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/budisoegi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/budisoegi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budisoegi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budisoegi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budisoegi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budisoegi.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budisoegi.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budisoegi.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=26&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budisoegi.wordpress.com/2009/10/13/mengamati-tingkah-laku-burung-peliharaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49e66dd2ba889069840cd73307236312?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">budisoegi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melihat Kebesaran Tuhan Dengan Mengamati Prilaku Kodok</title>
		<link>http://budisoegi.wordpress.com/2009/09/09/melihat-kebesaran-tuhan-dengan-mengamati-prilaku-kodok/</link>
		<comments>http://budisoegi.wordpress.com/2009/09/09/melihat-kebesaran-tuhan-dengan-mengamati-prilaku-kodok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 07:04:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budisoegi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budisoegi.wordpress.com/2009/09/09/melihat-kebesaran-tuhan-dengan-mengamati-prilaku-kodok/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap orang tentu mengenal katak/kodok karena hewan ini ada disekitar kita. Dongeng mengenai kodok banyak kita dengar ketika kita masih kecil atau dapat dibaca di buku-buku dongeng tentang hewan. Bahkan dulu ada nyanyian tentang kodok yang memanggil hujan. Nyanyian tentang kodok yang cukup dikenal adalah &#8220;kodok ngorek&#8221;. Walupun hewan ini ada disekitar kita, mungkin kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=25&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Setiap orang tentu mengenal katak/kodok karena hewan ini ada disekitar kita.  Dongeng mengenai kodok banyak kita dengar ketika kita masih kecil atau dapat dibaca di buku-buku dongeng tentang hewan.  Bahkan dulu ada nyanyian tentang kodok yang memanggil hujan.  Nyanyian tentang kodok yang cukup dikenal adalah <span style="font-size:12pt;">&#8220;</span>kodok ngorek&#8221;. Walupun hewan ini ada disekitar kita, mungkin kita jarang mengamati  prilakunya.  Bagi yang mempunyai kolam di halaman  rumahnya, hewan ini sering datang pada malam hari diwaktu hujan turun atau  sehabis hujan turun .  Kedatangan kodok, terutama kodok buduk dapat mengganggu tidur kita karena suaranya yang keras dan ramai.  Karena Kodok buduk  ini muncul waktu ada hujan, lalu kemana ketika tidak ada hujan?
</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau kita memperhatikan sekeliling rumah , kadang-kadang kita menjumpai kodok buduk ini di semak-semak disekitar rumah  atau tempat yang tersembunyi diantara bebatuan.  Kita tidak merasakan kehadiran kodok ini karena hewan ini tidak bersuara /bernyanyi apabila tidak ada hujan.  Kalau diperhatikan, tampaknya hujan merupakan pemicu kodok ini untuk melakukan perkawinan.  Dalam menemukan lawan jenisnya untuk melakukan perkawinan, tampaknya kodok ini menggunakan suara/nyanyian.   Suara ini terdengan sangat nyaring terutama pada waktu tengah malam.  Karena  merasa tidur sering terganggu akibat suara kodok yang sangat nyaring, maka ketika sebelum tidur mendengar suara kodok, saya keluar rumah untuk menangkap dan membuangnya  ke halaman belakang rumah yang berupa kebun.  Antara rumah dan kebun ada tembok pembatas dengan tinggi sekitar 2.5 m sehingga tak mungkin kodok kembali lagi ke rumah  melewati tembok yang tinggi.  Saya merasa aneh, mengapa pada tengah malam rumah saya ramai lagi oleh suara kodok padahal kodok-kodok telah saya tangkap dan saya buang ke belakang rumah.  Perlu diketahui,   Kodok datang ke rumah saya untuk melakukan perkawinan kemudian bertelur   di  kolam yang terletak di samping rumah.  Hampir setiap malam kejadian tersebut berulang.  Karena hal tersebut, saya menjadi bertanya apakah kodok yang datang tengah malam merupakan kodok yang saya buang dibelakang rumah atau ada kodok lain yang datang ke rumah.  Rumah saya adalah rumah ketiga dari tepi jalan raya.  Antara kompleks rumah  dan jalan raya ada saluran air/selokan yang selalu ada airnya.  Merasa panasaran dengan pertanyaan tersebut, maka ketika saya menangkap kodok lagi  antara  jam 7-9 malam,  atas saran anak saya, semua kodok yang tertangkap  saya cat menggunakan cat pylox berwarna putih agar mudah dilihat pada malam hari.  Pada tengah malam, ketika saya merasa tidurnya  terganggu oleh suara kodok tersebut, maka saya bangun kemudian pergi ke halaman samping untuk menangkap dan membuang kodok-kodok tersebut ke belakang rumah .  Saya keluar rumah dengan membawa senter.  Apa yang saya lihat sungguh mengejutkan karena banyak kodok dengan warna putih dipunggungnya.  Berarti kodok yang saya buang ke belakang rumah,  kembali ke rumah saya lagi.  Esok malamnya , saya kembali menangkap kodok di halaman depan rumah sebelum kodok datang ke kolam.  Ketika saya mencari kodok untuk ditamgkap dan dibuang ke belakang rumah , ternyata  banyak kodok dengan warna putih dipungggungnya yang datang ke rumah saya.  Kodok ini aktifnya malam hari sehingga saya menangkap kodok pada malam hari.  Untuk datang ke kolam yang terletak di samping rumah dengan tujuan   untuk melakukan perkawinan  dan bertelur setelah saya buang ke belakang rumah, kodok tersebut harus menempuh jalam memutar yang dengan jarak mimimal 130 m.  Perjalanan kodok menuju rumah   melalui semak semak dan bahkan turun naik selokan air.  Yang menjadi pertanyaan saya yaitu mengapa kodok- kodok tersebut selalu kembali kerumah saya dan bagaimana dia mengetahui di halamam samping rumah saya ada kolam yang dapat digunakan untuk meletakkan telurnya? Pada kejadian tersebut, kita bisa merasakan/melihat kebesaran Allah SWT melalui machluknya tersebut.  Tampaknya  Allah telah menciptakan sensor spesifik pendeteksi air kolam pada kodok sehingga kodok bisa menemukan kolam berisi air di rumah saya.  Kalau hanya sensor untuk mendeteksi air, tentunya kodok tersebut akan datang ke setiap rumah karena setiap rumah mempunyai bak mandi yang berisi air atau dia cukup sampai di selokan yang ada di tepi jalan raya.  Allah telah memberi  kodok sensor yang sangat spesifik untuk menemukan tempat berkembangbiaknya yaitu kolam berisi air agar dia dapat melanjutkan keturunannya/berkembangbiak.  Kalau kodok ini meletakkan telurnya di selokan, mungkin telur-telur tersebut akan hanyut dan hancur terbentud benda-benda sepanjang selokan.  Di sini Allah menunjukkan kebesaranya melalui machluk ciptaannya dengan melengkapinya dengan sensor yang sangat spesifik.  Perjuangan kodok tersebut untuk datang ke kolam di rumah saya sungguh berat karena dari luar rumah untuk sampai ke kolampun harus melalui dua  halangan lagi yaitu pagar rumah dan pagar antara halaman depan dan kolam.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Kebesaran kedua yang ditunjukkan Oleh Allah SWT melalui kodok adalah banyaknya telur yang diletakkan.  Kodok ini meletakkan ratusan bahkan mungkin ribuan telur dalam rangka mengantisipasi punahnya keturunan.  Dari ribuan telur tersebut,karena adanya gangguan alam,  mungkin hanya beberapa  yang dapat mencapai dewasa.  Salah satu contoh gangguan alam adalah   saya yang selalu membuang telur-telur tersebut dari kolam.   Walaupun saya telah membuang telur telur kodok yang terlihat di kolam,   mungkin masih banyak  telur yang luput dari pengamatan saya  sehinga menetas menjadi kecebong.  Kecebong inipun saya ambil dari kolam kemudian dibuang, tapi masih ada saja yang luput dari pengamatan saya sehingga berhasil menjadi kodok dewasa kembali walaupun dalam hitungan yang terbatas.  Seandainya kodok  ini hanya bertelur sedikit, mungkin kodok tersebut sudah punah karena gangguan alam.  Di alam bebas, kodok tentu mempunyai banyak pemangsa yang siap memusnahkannya apabila hanya meletakkan telur sedikit.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Dari pengamatan tersebut, Allah SWT jelas-jelas memperlihatkan kebesarannya kepada kita yaitu melalui  kodok yang dilengkapi  dengan sensor yang sangat spesifik untuk menemukan kolam yang berisi air dan memberikan kodok kemampuan menghasilkan banyak telur sehingga terhindar dari kepunahan karena ganasnya alam.  Maha Besar Allah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budisoegi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budisoegi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budisoegi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budisoegi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/budisoegi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/budisoegi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/budisoegi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/budisoegi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budisoegi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budisoegi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budisoegi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budisoegi.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budisoegi.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budisoegi.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=25&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budisoegi.wordpress.com/2009/09/09/melihat-kebesaran-tuhan-dengan-mengamati-prilaku-kodok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49e66dd2ba889069840cd73307236312?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">budisoegi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berbagi Pengalaman Mendidik Anak Agar Bersikap Kritis Dan Menjadi Cerdas</title>
		<link>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/26/berbagi-pengalaman-mendidik-anak-agar-bersikap-kritis-dan-menjadi-cerdas/</link>
		<comments>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/26/berbagi-pengalaman-mendidik-anak-agar-bersikap-kritis-dan-menjadi-cerdas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 03:12:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budisoegi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/26/berbagi-pengalaman-mendidik-anak-agar-bersikap-kritis-dan-menjadi-cerdas/</guid>
		<description><![CDATA[Pada awal tahun 1980 an, penulis membaca tulisan almarhum Prof.Dr. Andi Hakim Nasution di harian Kompas yang intinya mengulas bagaimana mengarahkan anak agar dapat berpikir kritis dan mengapa orang batak banyak yang cerdas. Saya mencoba menerapkan saran Prof. Andi Hakim, Alhamdulillah saya mempunyai anak yang bersikap kritis dengan IQ 135. Dalam tulisan tersebut pada intinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=24&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">     Pada awal tahun 1980 an, penulis membaca tulisan almarhum Prof.Dr. Andi Hakim Nasution di harian Kompas yang intinya mengulas bagaimana mengarahkan anak agar dapat berpikir kritis dan mengapa orang batak banyak yang cerdas.  Saya mencoba menerapkan saran Prof. Andi Hakim, Alhamdulillah saya mempunyai anak yang bersikap kritis dengan IQ 135.  Dalam tulisan tersebut pada intinya beliau mengatakan: (1) sejak dini hindari menggunakan kata jangan waktu kita tidak/kurang  berkenan terhadap perbuatan anak dan  usahakan untuk  menjawab semua pertanyaan anak apabila dia bertanya, walaupun pertanyaan tersebut sulit dicari jawabannya atau sulit menerangkan kepada anak mengenai jawaban atas pertanyaan anak tersebut dan hindari  mengeluarkan kata kata jangan banyak tanya/rewel amat sih  sebagai reaksi atas pertanyaan yang sulit dijawab tersebut karena hal tersebut bisa menyebabkan anak takut bertindak, bertanya atau mengemukakan pendapatnya.  (2) Orang batak banyak yang cerdas karena kebiasaan orang batak yang mendahulukan makanan untuk anak dibandingkan untuk orang tuanya, sehingga anak mendapat gizi yang cukup baik.  Hal ini berbeda dengan beberapa suku lain di Indonesia yang anak baru boleh makan setelah orang tuanya selesai makan  , sehingga anak makan makanan <sup>&#8220;</sup>sisa&#8221; atau yang belum dimakan oleh orang tuanya
</p>
<p style="text-align:justify;">     Pertama saya akan berbagi pengalaman mendidik anak agar dapat bersifat kritis.  Berbekal dari tulisan Prof. Andi Hakim tersebut, ketika saya mempunyai anak, saya  mencoba menerapkan apa yang ditulis beliau.  Saya berusaha menghindari kata jangan apabila tidak berkenan terhadap perbuatan atau tindakan anak dan berusaha dengan sabar menjawab pertanyaan anak atau memberi kesempataan anak untuk bertanya. Memang hal ini cukup sulit dan merepotkan karena kita selalu harus mencari kata-kata lain atau mencari alternative tindakan lain supaya kita tidak mengeluarkan kata jangan.  Sebagai contoh adalah ketika anak menggambar atau mencoret-coret dinding rumah.  Kita tentu tidak setuju atau kurang berkenan dengan perbuatan tersebut dan biasanya kita mengatakan jangan menulis/mencoret di dinding atau jangan menggambar di dinding.  Untuk menghindari penggunaan kata jangan pada kasus tersebut, kita bisa mengarahkan anak agar tidak mencoret/menulis atau mengambar di dinding dengan mengatakan kepada anak bahwa dinding bukan tempat untuk menulis atau menggambar karena dinding akan menjadi kotor dan jelek apabila ditulis atau digambar. Selanjutnya kita bisa mengatakan  kalau mau menulis atau menggambar sebaiknya di kertas, sambil kita menyediakan kertas dan alat tulis atau alat  menggambar  untuk digunakan oleh  anak kita dan sebaiknya kita menemani anak kita sejenak ketika anak akan menulis atau menggambar di kertas agar anak mau melakukan kegiatan tulis menulis dan menggambar di kertas.  Contoh lain adalah ketika anak berlompat-lompatan dikursi tamu atau ditempat tidur, biasannya sebagai orang tua langsung melarang anak untuk melakukan perbuatan tersebut dengan mengatakan jangan melompat-lompat di kursi atau di kasur nanti kursi atau kasurnya rusak.  Kita mempunyai alternative lain agar anak tidak melakukan hal tersebut misalnya dengan mengatakan bahwa kursi atau tempat tidur bukan tempat berlompat-lompatan, kalau mau berlompat-lompatan tempatnya di lantai, sambil kita mengajak si anak berlompat lompat di lantai.  Dan banyak contoh lainnya yang bisa digunakan agar kita bisa menghindar sebanyak mungkin mengeluarkan kata jangan kepada anak kita.  Menurut Prof. Andi Hakim, dengan berbuat begitu, kita telah melatih/mendidik anak   untuk berani melakukan sesuatu tanpa merasa takut
</p>
<p style="text-align:justify;">     Saran kedua dari tulisan Prof. Andi Hakin agar kita merangsang anak untuk bertanya dengan jalan berusaha menjawab semua pertanyaan anak.   Saya mencoba melakukan saran tersebut ketika saya mempunyai anak.  Hal tersebut memang kadang kadang sulit dan merepotkan, tetapi dengan kita suka banyak membaca ,  pengetahuan kita berkembang sehingga dapat menjadi bekal untuk mengatasi hambatan dalam menerapkan saran tersebut.  Saya tidak hanya berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan oleh anak tetapi saya berusaha menciptakan kondisi agar anak banyak bertanya.  Hal ini dimulai dengan kebiasaan saya bercerita atau membacakan buku cerita kepada anak, terutama cerita dongeng dari berbagai daerah.  Kebetulan pada saat saya mempunyai anak, di toko buku banyak tersedia cerita dongeng dari berbagai daerah.  Buku tidak harus mahal, karena kita  membeli  buku cerita yang menggunakan kertas murah atau buku-buku terbitan Balai Pustaka yang memang harganya cukup murah dan bahkan saya sering mencari buku cerita di tempat penjual buku bekas.  Ketika saya bercerita, saya mempunyai keyakinan bahwa banyak kata-kata yang tidak dimengerti oleh anak atau ada pengertian-pengertian yang belum diketahui oleh anak.  Berasumsi dari hal tersebut, sambil bercerita saya menanyakan beberapa kata atau pengertian yang menurut saya belum diketahui olehnya. Apabila dia menjawab tidak tau atau tidak mengerti mengenai hal tersebut, saya berusaha menjelaskannya.  Diakhir penjelasan,  saya menyelipkan kata-kata kalau pa e (saya membahasakan diri saya ke anak dengan panggilan pa e) lagi membaca cerita atau lagi bercerita dan mas (saya memanggil anak saya mas) ada kata-kata atau cerita yang ga ngerti, mas langsung tanya ya.  Dengan melakukan hal tersebut berulang ulang, akhirnya dia banyak bertanya setiap saya membacakan buku cerita atau bercerita.  Jadi usaha saya untuk memancing anak saya bertanya membuahkan hasil anak banyak bertanya yang kelak akan membuahkan anak yang bersikap kritis.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Ada hal yang harus kita antisipasi jika kita ingin mendidik anak kita agar bersikap kritis,  antara lain kadang-kadang kalau kita sedang memarahi anak, dia langsung akan bertanya  kepada kita apa salah dia sampai kita memarahinya.  Dia akan berargumentasi/memberikan alasan bahwa yang dilakukannya itu benar kalau dia berpikiran bahwa dia benar.  Di sini kita harus menjelaskan dengan baik bahwa kita marah karena yang dilakukannya tersebut tidak benar disertai  berbagai keterangan yang menjelaskan bahwa anak kita salah.   Hal lain adalah ketika anak sudah memasuki usia sekolah, karena ketika disekolah kalau dia tidak setuju/sependapat  dengan gurunya, maka akan langsung mengemukakan ketidaksetujuannya tersebut atau langsung menyatakan guru salah apabila memang guru melakukan kesalahan.  Untuk hal tersebut, kita perlu melakukan pendekatan/penjelasan kepada gurunya tentang sikap anak kita.  Sebagai contoh, ketika anak saya masih sekolah di Taman Kanak-kanak, gurunya menggambar awan.  Waktu Bu Guru menjelaskan bahwa Bu Guru sedang menggambar awan, anak saya langsung angkat tangan bahwa yang digambar tersebut kalong bukan awan.  Ibu gurunya langsung menjawab bahwa bu Guru memang tidak pandai mengambar.  Itu salah satu contoh sikap kritis pada waktu di TK.  Ketika memasuki usia SD, ketika Bapak Gurunya melakukan kesalahan dalam  menjelaskan masalah metamatika, dia langsung mengatakan keterangan Bapak Guru salah.  Tidak semua guru bisa menerima sikap kritis anak didiknya, jadi kalau anak kita melakukan hal tersebut, kita perlu melakukan pendekatan kepada Gurunya agar tidak ada konflik antara anak dengan Gurunya.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Kedua saya akan berbagi pengalaman mendidik anak cerdas.  Seperti saya kemukakan sebelumnya, dalam tulisan Prof. Andi Hakim mengemukakan orang batak banyak yang cerdas karena mendapat gizi yang cukup akibat budaya mendahulukan makanan untuk anak.  Di sini intinya anak harus mendapat gizi yang baik apabila ingin cerdas.  Untuk mendidik anak agar bisa cerdas, saya juga menerapkan pengetahuan lain yaitu pengetahuan yang ada di dalam agama saya.  Saya seorang muslim, dalam agama yang saya anut, dianjurkan untuk membacakan ayat-ayat Al Qur an sejak bayi masih dalam kandungan.  Anjuran ini kalau kita kaitkan dengan pengetahuan sekarang adalah untuk merangsang perkembangan otak sejak dini.  Dalam ilmu pengetahuan sekarang, kita dianjurkan memperdengarkan musik klasik kepada bayi sejak bayi di kandungan agar ada rangsangan perkembangan otak si bayi.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Dalam hal memenuhi kebutuhan gizi anak, kita tidak harus membeli makanan yang mahal.  Saya dan istri adalah pegawai negeri yang tentunya gajinya tidak besar.  Sudah gaji tidak besar, ada beban harus mencicil angsuran rumah BTN.  Kebetulan di dekat kompleks Perumahan BTN yang saya huni, ada pabrik tahu yang juga memproduksi oncom.  Jadi saya memanfaatkan tahu, oncom dan tempe selain telur, daging  ikan dan susu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.   Tahu, tempe,  oncom,dan  telur termasuk makanan yang harganya tidak mahal.  Kebetulan saya bukan perokok, jadi bisa memanfaatkan uang yang sedikit untuk memenuhi gizi anak. Agar anak tidak bosan memakan tahu, oncom,  tempe, dan telur kita dituntut untuk menyajikan  berbagai variasi makanan yang terbuat dari tahu, tempe, oncom dan telur tersebut.  Kita tidak usah kuatir masalah gizi anak dengan memberi anak makan tahu, tempe  dan oncom, karena bahan baku yang digunakan untuk membuat makan tersebut adalah kedelai yang merupakan bahan yang mempunyai kandungan protein lebih tinggi dibandingkan daging, ikan dan susu, walaupun komposisi asam aminonya tidak selengkap kandungan asam amino protein hewani.  Kelemahan sumber protein tersebut dapat ditutupi dari telur dan  sayuran.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Memenuhi kebutuhan gizi saja mungkin tidak cukup membuat anak berkembang menjadi anak yang cerdas.  Agar anak berkembang menjadi anak yang cerdas, perkembangan otak harus dirangsang sejak dini.  Seperti yang diuraikan di atas, dalam agama Islam kita dianjurkan memperdengarkan ayat-ayat suci Al Qur an sejak anak masih dalam kandungan agar anak sejak dini mengenal ayat-ayat suci Al Qur an.   Hal lain yang diperoleh dengan membacakan ayat-ayat suci Al Qur an sejak dalam kandungan adalah merangsang perkembangan otak anak.  Karena saya kurang fasih membaca Al Qur an dan suara saya tidak merdu dalam membaca Al Qur an, maka sebagai gantinya saya selalu bernyanyi untuk anak saya.  Karena saya tidak mempunyai suara yang baik, maka lagu-lagu yang saya nyanyikan adalah lagu Nasional Indonesia (Indonsia Raya), lagu-lagu kebangsaan seperti maju tak Gentar dan sejenisnya,  dan lagu-lagu daerah.  Saya membeli buku lagu-lagu nasional dan lagu daerah untuk melakukan hal tersebut.  Kalau saya belum hafal lagunya, saya menyanyi sambil memegang buku.  Kegiatan tersebut saya lakukan mulai anak saya berumur empat bulan.  Saya tidak sempat menyanyi untuk anak saya ketika anak masih di dalam kandungan karena saya berada di Lampung untuk mengkoordinasikan percobaan hama kedelai sejak istri belum hamil.  Saya hanya sempat kembali ke Bogor maksimal satu minggu dalam sebulan.  Ketika usia kehamilan isteri saya mencapai empat bulan, saya mendapat tugas  ke Tsukuba Jepang selama sembilan Bulan.  Jadi saya baru bertemu anak saya setelah anak berusia 4 bulan.  Sejak itu, setiap menidurkan anak, menimang anak saya selalu bernyanyi.  Gejala anak saya merekam apa yang saya nyanyikan, kalau dia sudah mulai mengantuk ketika saya bernyanyi, maka dia minta dinyanyikan lagu Nyiur Hijau.  Hal ini  saya ketahui dari tindakannya menggelengkan kepala apabila saya menyanyikan lagu selain Nyiur Hijau, dan tidak menggelang apabila dinyanyikan lagu  Nyiur Hijau ketika dia sudah mengantuk.  Jadi selama ini, otaknya merekam lagu-lagu yang saya nyanyikan.  Bukti anak kecil merekam apa yang dia dengar, tampak jelas ketika anak saya mulai dapat mengucapkan kata-kata/berbicara, dia dapat menyanyikan semua lagu yang pernah saya nyanyikan untuknya.  Yang saya maksud dapat bernyanyi adalah ketika saya menyanyikan Indone, dia menyambung sia dan kalau saya menyanyi tanah air dia akan mengucap ku demikian seterusnya, demikian juga untuk lagu lagu lainnya.  Ketika anak saya sudah lancar berbicara, dia sudah dapat menyanyikan sendiri semua lagu yang pernah didengarnya.  Jadi sebelum umur dua tahun, anak saya sudah dapat menyanyikan semua lagu wajib/nasional yang ada di buku Lagu-lagu Nasional.  Dari kejadian tersebut, kita bisa menyimpulkan anak usia dini bisa merekam apa yang dia dengarnya dan hal tersebut merupakan latihan bagi otak untuk bekerja.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Kandungan gizi yang cukup baik dikombinasikan dengan rangsangan otak sejak dini dapat merangsang perkembangan otak dibuktikan   ketika diadakan test IQ di TKnya.  Hasil test IQ anak saya mencapai 135.  Anak saya pernah beberapa kali mengalami kejang sebelum usia masuk TK akibat suhu badan yang tinggi.  Menurut dokter, ketika anak kejang, jutaan sel otak mengalami kematian.  Jadi kalau anak saya tidak pernah mengalami kejang, mungkin IQnya bisa lebih tinggi lagi.  IQ yang tinggi ini tidak menjamin orang akan mencapai prestasi belajar yang baik, karena katanya faktor lingkungan, Kecerdasan Emosional dan lain-lain mempengaruhi prestasi belajar anak.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Mudah-mudahan sekelumit pengalaman saya ini bermanfaat bagi pasangan rumah tangga baru dalam merencanakan memiliki anak yang kritis  dan cerdas .  Memang pengalaman ini baru diperoleh dari satu kasus, tetapi kasus ini didukung oleh teori yang ada.
</p>
<p style="text-align:center;">Selamat mencoba, Bogor 26 Agustus 2009
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budisoegi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budisoegi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budisoegi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budisoegi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/budisoegi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/budisoegi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/budisoegi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/budisoegi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budisoegi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budisoegi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budisoegi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budisoegi.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budisoegi.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budisoegi.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=24&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/26/berbagi-pengalaman-mendidik-anak-agar-bersikap-kritis-dan-menjadi-cerdas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49e66dd2ba889069840cd73307236312?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">budisoegi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara Perbanyakan Ulat Grayak, Spodoptera litura</title>
		<link>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/24/cara-perbanyakan-ulat-grayak-spodoptera-litura-2/</link>
		<comments>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/24/cara-perbanyakan-ulat-grayak-spodoptera-litura-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 07:21:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budisoegi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/24/cara-perbanyakan-ulat-grayak-spodoptera-litura-2/</guid>
		<description><![CDATA[Perbanyakan ulat grayak yang diuraikan di sini ditulis berdasarkan pengalaman memelihara ulat grayak untuk keperluan penelitian dan hasil kerja mahasiswa yang meneliti biologi ulat grayak di bawah bimbingan penulis. Di Laboratorium, ulat grayak dapat dipelihara menggunakan pakan alami antara lain berupa daun kedelai, daun kacang tanah, daun bayam dan daun kangkung, talas atau dipelihara menggunakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=21&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Perbanyakan ulat grayak yang diuraikan di sini ditulis berdasarkan pengalaman memelihara ulat grayak untuk keperluan penelitian dan hasil kerja mahasiswa yang meneliti biologi ulat grayak di bawah bimbingan penulis.  Di Laboratorium, ulat grayak dapat dipelihara menggunakan pakan alami antara lain berupa daun kedelai, daun kacang tanah, daun bayam dan daun kangkung, talas  atau dipelihara menggunakan pakan butan  yang komposisinya akan disajikan pada tulisan ini. Hal yang menjadi masalah  dalam memelihara ulat grayak di laboratorium adalah adanya virus nuclear polyhidrosis (NPV) yang sering menyerang ulat ini selama pemeliharaan ulat.  Apabila ada tempat atau wadah untuk memelihara serangga yang terkontaminasi virus ini, sebaiknya wadah tersebut jangan digunakan lagi untuk memelihara serangga karena walaupun wadah yang terkontaminasi virus telah direndam dalam larutan formalin, sabun atau kaporit kemudian beberapa hari dijemur di bawah matahari dan terakhir disinar dengan sinar ultraviolet,  apabila wadah tersebut digunakan untuk memelihara ulat grayak, hampir semua ulat yang dipelihara mati terserang virus.  Dalam teorinya, NPV rentan/sensitip terhadap sinar UV, tetapi kenyataannya kotak pemeliharaan yang telah terkontaminasi virus akan menjadi sumber infeksi virus. Ciri khas ulat yang terserang virus ialah awalnya apabila dipegang, pada ujung abdomen akan mengeluarkan cairan bening.  Gejala selanjutnya, ulat tidak mau makan, akhirnya mati.  Ulat yang mati   umumnya menggantung di pada kain kasa yang digunakan untuk menutup  wadah untuk memelihara serangga. Ulat yang mati tersebut akan hancur apabila disentuh.  Ulat grayak yang mati terserang virus tidak mengeluarkan bau seperti halnya apabila ulat ini terserang bakteri, kecuali ulat yang terserang virus juga terserang bakteri sekunder.
</p>
<p style="text-align:justify;">     Bahan bahan yang dibutuhkan untuk perbanyakan ulat grayak antara lain, wadah plastik, kertas, serbuk gergaji, madu/gula, tutup botol obat, kain kasa, kapas, gunting, dan mikroskop apabila diperlukan, pakan alami atau pakan buatan.  Tahap tahapan yang harus dilakukan dalam memelihara ulat grayak adalah sebagai berikut:
</p>
<ol>
<li>
<div style="text-align:justify;"> Menyiapkan wadah/tempat memelihara ulat.
</div>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Wadah yang umum digunakan adalah wadah/kotak plasatik.  Selama ini  saya menggunakan kotak plastic ukuran pajang (p)  22,5 cm, lebar (L) 12,0   cm dan tinggi (t)  4,5  cm; p =29,0   cm, l = 20  cm dan t = 6,5 cm atau  p =22.5 cm, l = 16,5  cm dan t= 8,0 cm.  Bagian penutup wadah dilubangi dengan luas lubang kurang lebih 50% luas wadah.  Siapkan kain kasa yang panjang dan lebarnya lebih panjang dan lebih lebar 10,0 cm dibandingkan panjang dan lebar wadah/kotak pemeliharaan serangga.  Masukkan serbuk gergaji ke dalam wadah pemeliharaan serangga sehingga mencapai ketebalan kurang lebih 1,5 cm, kemudian tutup serbuk gergaji menggunakan kertas yang luasnya sama sedikit lebih kecil  dibandingkan dengan luas wadah.  Untuk menjaga agar serbuk gergaji relative tetap kering, sebaiknya kertas dalam bentuk lipatan lipatan yang lebar lipatannya kurang lebih 1,5-2.0 cm. Tutup wadah pemeliharaan serangga menggunakan kasa yang telah disiapkan di atas, kemudian tutup wadah plastik tersebut menggunakan penutup yang telah dilubangi tersebut di atas.
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<ol>
<li>
<div style="text-align:justify;">Menyiapkan wadah/tempat pemeliharaan kupu dan peletakkan telur
</div>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">     Tempat memelihara kupu-kupu/ngengat dan tempat meletakkan telur umumnya terbuat dari stoples plastik.  Selama ini, umumnya saya menggunakan stoples platik berdiameter 14,0 cm dengan tinggi 13,0   cm.  Penutup stoples dilubangi dengan luas lubang 30-40 % dari luas lubang penutup stoples. Siapkan kain kasa dengan diameter kurang lebih 10 cm lebih panjang dibandingkan dengan diameter bagian atas stoples.  Lapisi bagian dalam stoples menggunakan kertas yang berfungsi sebagai tempat ngengat meletakkan telurnya, kemudian tutup alas bagian dalam dengan kertas yang diameternya sama dengan alas bagian dalam.  Tempatkan kapas yang telah dibasahi dengan larutan madu/gula 5-10% ke tutup bekas botol obat yang terbuat dari plastik.  Tempatkan wadah yang berisi kapas yang mengandung larutan madu di alas stoples yang telah dialasi dengan kertas.  Tutup stoples menggunakan kain kasa yang telah disiapkan tersebut di atas, kemudian stoples ditutup menggunakan penutup stoples yang telah di lubangi.  Stoples yang telah diberi larutan madu dan ditutup ini,  sudah siap digunakan untuk memelihara ngengat sampai meletakkan telur.
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<ol>
<li>
<div style="text-align:justify;">Menyiapkan ulat sebagai sumber perbanyakan serangga
</div>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">     Ulat grayak yang akan kita pelihara dapat diperoleh dari Lab. yang membiakkan serangga ini atau mencari di lapang.  Apabila akan mencari ulat grayak/telur  di lapang, sebaiknya mencari ulat di kebun talas, karena mencari ulat di daun talas lebih mudah dibandingkan dengan mencarinya di tanaman kedelai karena tanaman talas yang tinggi memudahkan kita mengamati ulat/telur ulat grayak, kecuali ada eksplosi hama ini pada tanaman kedelai.  Ulat/telur yang diperoleh dari lapang siap digunakan untuk perbanyakan masal ulat grayak.
</p>
<ol>
<li>
<div style="text-align:justify;">Menyiapkan pakan ulat grayak
</div>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pakan yang digunakan dapat berupa pakan alami berupa daun kedelai, daun kangkung, daun bayam liar, atau daun talas atau berupa pakan buatan yang komposisinya berupa tepung kacang jogo, dedak gandum, agar, ascorbic acid, sorbik acid, antibiotic, vitamin mix dan air.  Untuk pakan yang berupa daun  kedelai dan daun bayam liar, bungkus tangkai daun menggunakan kapas basah, kemudian sumbatkan kapas basah berisi daun ke botol yang berisi air, kemudian tempatkan botol tersebut ke wadah pemeilharaan serangga.  Apabila yang digunakan daun kangkung maka yang dibungkus kapas basah adalah batang yang ada daunnya.  Apabila pakan alami berupa daun talas, maka daun talas langsung ditempatkan  pada wadah pemeliharaan serangga.  Untuk pakan yang berupa pakan buatan, potong pakan buatan sesuai kebutuhan, tempatkan pakan buatan ke dalam wadah pemeliharaan ulat graya.
</p>
<ol>
<li>
<div style="text-align:justify;"> Pelaksanaan perbanyakan ulat grayak
</div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;"> Sumber perbanyakan ulat grayak yang berupa ulat atau telur ditempatkan pada wadah pemeliharaan yang telah berisi pakan alami atau pakan buatan yang telah disiapkan seperti tersebut pada butir satu di  atas
</div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;">Ganti pakan apabila pakan hampir habis atau ganti alas kertas apabila kertas basah atau terlalu lembab
</div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;">Apabila ulat akan menjadi pupa, maka ulat akan berhenti makan dan ulat akan masuk ke dalam serbuk gergaji yang ada di bawah kertas.
</div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;">Apabila ulat sudah masuk ke dalam serbuk gergaji, buang sisa pakan yang ada di dalam wadah pemeliharaan serangga dan angkat/sisihkan kertas penutup serbuk gergaji dari wadah pemeliharaan serangga.
</div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;">Kumpulkan pupa dari serbuk gergaji lima – tujuh hari setelah ulat masuk ke dalam serbuk gergaji, kemudian tempatkan ulat pada stoples tempat pemeliharaan ngengat atau tempat pelatkkkan telur  yang telah diberi kapas yang telah dibasahi cairan madu, kemudian tutup stoples menggunakan kain kasa dan petutup stoples yang telah di lubangi.  Ganti kapas yang berisi cairan madu/gula setiap hari.
</div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;">Ngengat yang baru keluar/muncul   dari pupa akan makan cairan madu/gula yang disediakan dan umumnya akan meletakkan kelompok telur pada kertas yang melapisi bagian dalam stoples.  Lepaskan kertas yang mengandung telur tersebut.  Sebelum mengambil/memanen telur, pindahkan ngengat ke stoples lain yang akan digunakan untuk pemeliharaan ngengat.
</div>
</li>
<li>
<div style="text-align:justify;">Gunting kertas yang mengandung telur tersebut, kemudian guntingan kertas yang mengandung telur ditempatkan ke wadah pemeliharaan serangga yang telah berisi pakan alami atau pakan buatan.  Larva yang muncul dari telur dapat digunakan sebagai bahan penelitian apabila stadium larva  yang kita inginkan sudah tercapai, dan sisanya dapat digunakan untuk perbanyakan ulat grayak lagi.
</div>
<p style="text-align:center;">Selamat Mencoba, Semoga Uraian Di Atas Mudah Dimengerti
</p>
<p style="text-align:center;">Bogor, 17-8-2009
</p>
</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budisoegi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budisoegi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budisoegi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budisoegi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/budisoegi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/budisoegi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/budisoegi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/budisoegi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budisoegi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budisoegi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budisoegi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budisoegi.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budisoegi.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budisoegi.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=21&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/24/cara-perbanyakan-ulat-grayak-spodoptera-litura-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49e66dd2ba889069840cd73307236312?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">budisoegi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pakan buatan untuk ulat grayak (S.litura), penggerek buah kapas (H.armigera),dan penggerek tongkol Jagung (O.furnacalis)</title>
		<link>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/20/pakan-buatan-untuk-ulat-grayak-s-litura-penggerek-buah-kapas-h-armigeradan-penggerek-tongkol-jagung-o-furnacalis/</link>
		<comments>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/20/pakan-buatan-untuk-ulat-grayak-s-litura-penggerek-buah-kapas-h-armigeradan-penggerek-tongkol-jagung-o-furnacalis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 08:13:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budisoegi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/20/pakan-buatan-untuk-ulat-grayak-s-litura-penggerek-buah-kapas-h-armigeradan-penggerek-tongkol-jagung-o-furnacalis/</guid>
		<description><![CDATA[Resep pakan buatan ini sudah lama diuji coba di Laboratorium Bioekologi Serangga di BB-Biogen. Pakan buatan ini merupakan alternative pakan untuk memelihara serangga/ulat dalam jumlah banyak, terutama apabila bahan-bahan untuk pembuatan pakan tersedia/mudah didapat di tempat kita memelihara serangga. Bahan dan alat yang diperlukan untuk pembuatan pakan adalah sebagai berikut: Bahan:   48 g Agar-agar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=18&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Resep pakan buatan ini sudah lama diuji coba di Laboratorium Bioekologi Serangga  di BB-Biogen.  Pakan buatan ini merupakan alternative pakan untuk memelihara serangga/ulat   dalam jumlah banyak, terutama apabila bahan-bahan untuk pembuatan pakan tersedia/mudah didapat di tempat kita memelihara serangga.  Bahan dan alat yang diperlukan  untuk pembuatan pakan adalah sebagai berikut:
</p>
<p style="text-align:justify;">Bahan:</p>
<div style="margin-left:36pt;">
<table style="border-collapse:collapse;" border="0">
<col>
<col>
<col>
<tbody valign="top">
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:right;">48 g </p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Agar-agar kertas</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:right;">250 g</p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Tepung kacang jogo (Kacang jogo kering digiling menjadi  tepung)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:right;">200 g </p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Dedak gandum (Biasanya bisa diperoleh di pabrik pakan ternak, pesan di toko pakan ternak atau di Laboratorium pakan Fakultas peternakan)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:right;">100 g </p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Casein (Apabila sukar memperoleh casein, bahan ini tidak perlu disertakan dalam pembuatan pakan buatan)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:right;">125 g</p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Ragi (Di Laboratorium BB-Biogen, kami biasa menggunakan Fermipan)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:right;">12 g</p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">L Ascorbic Acid</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:right;">6 g</p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Sorbic Acid</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:right;">20 g</p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Vitamin mix (Bisa digantikan dengan multi vitamin bayi)</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:right;">0.025 mg</p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Streptomycin</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:right;">4200 ml</p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Air
</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="text-align:justify;margin-left:36pt;">
 </p>
<p style="text-align:justify;margin-left:36pt;">Alat:
</p>
<p style="text-align:justify;margin-left:36pt;">
<div style="margin-left:36pt;">
<table style="border-collapse:collapse;" border="0">
<col>
<col>
<tbody valign="top">
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Panci untuk merebus </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Pengaduk dari kayu </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Wadah untuk menempatkan pakan </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Baskom untuk merendam agar kertas </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Timbangan mikro (skala mg) </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Sendok preparat </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Gelas ukur </p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;"> </td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;">Mixer dan blender </p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="text-align:justify;margin-left:36pt;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">Proses pembuatan pakan buatan:
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<div>
<table style="border-collapse:collapse;" border="0">
<col>
<col>
<tbody valign="top">
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p><span style="font-size:10pt;">1.</span></p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Didihkan 4200 ml air menggunakan panci</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p><span style="font-size:10pt;">2. </span></p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Rendam agar-agar kertas menggunakan air sampai agar-agar mengembang</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p><span style="font-size:10pt;">3.</span></p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Campur tepung kacang jogo, dedak gandum, kasein dan ragi ke dalam satu wadah, kemudian aduk rata dengan pengaduk kayu atau menggunakan mixer</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p><span style="font-size:10pt;">4. </span></p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Setelah air mendidih, masukkan agar yang telah mengembang tersebut di atas, aduk perlahan-lahan sampai semua agar larut.  </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p><span style="font-size:10pt;">5. </span></p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Setelah agar larut, kecilkan api, masukkan campuran tepung kacang jogo seperti pada butir 3 ke dalam larutan agar, kemudian aduk rata.  Setelah campuran kacang jogo dengan larutan agar tercampur dengan baik, matikan api,  atau tuangkan larutan agar yang telah berisi campuran tepung kacang jogo ke dalam blender, kemudian campuran tersebut diblender sampai tercampur dengan baik.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p><span style="font-size:10pt;">6.</span></p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Setelah campuran pada butir lima tidak panas lagi tetapi masih dalam bentuk laruta, tambahkan  L ascorbic acid, metil para hidroxy hydrobenzoat, vitamin mix dan antibiotic ke dalam campuran ini, kemudian aduk rata kembali, atau apabila menggunakan blender, sambil larutan di blender, masukkan campuran vitamin dan pengawet (benzoate dan antibiotic) ke dalam blender setelah suhu tidak panas.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p><span style="font-size:10pt;">7.</span></p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Tuangkan pakan buatan ke dalam wadah sebelum campuran pakan buatan tersebut dingin atau membeku.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p><span style="font-size:10pt;">8.</span></p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Simpan pakan buatan di dalam kulkas (refrigerator) selama satu malam</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p><span style="font-size:10pt;">9.</span></p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Apabila pakan buatan akan digunakan  sebagai pakan untuk memelihara ulat grayak, penggerek buah kapas atau penggerek tongkol jagung, keluarkan pakan buatan dari kulkas dan biarkan pakan mencapai suhu ruang atau sampai pakan tidak dingin lagi.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p><span style="font-size:10pt;">10.</span></p>
</td>
<td style="padding-left:7px;padding-right:7px;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Pakan buatan yang sudah tidak dingin, siap digunakan sebagai pakan untuk memelihara ulat atau sebagai pakan untuk perbanyakan ulat.</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p style="text-align:justify;">Catatan:  Apabila pakan segera diperlukan untuk memberi pakan ulat yang sedang kita pelihara, maka setelah pakan tidak panas,  pakan tidak perlu disimpan di dalam refrigerator, tetapi langsung diberikan ke ulat sebagai pakan.
</p>
<p style="text-align:justify;">
 </p>
<p> </p></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budisoegi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budisoegi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budisoegi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budisoegi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/budisoegi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/budisoegi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/budisoegi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/budisoegi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budisoegi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budisoegi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budisoegi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budisoegi.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budisoegi.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budisoegi.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=18&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/20/pakan-buatan-untuk-ulat-grayak-s-litura-penggerek-buah-kapas-h-armigeradan-penggerek-tongkol-jagung-o-furnacalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49e66dd2ba889069840cd73307236312?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">budisoegi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berbagi Pengalaman Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar</title>
		<link>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/16/berbagi-pengalaman-untuk-meningkatkan-prestasi-belajar/</link>
		<comments>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/16/berbagi-pengalaman-untuk-meningkatkan-prestasi-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 13:02:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budisoegi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/16/berbagi-pengalaman-untuk-meningkatkan-prestasi-belajar/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi dalam menempuh pendidikan tinggi, pengalaman teman dan anak yang pretasinya meningkat secara bertahap setelah menemukan kondisi yang sesuai untuk meraih prestasi belajar yang baik. Cerita ini dimulai dari pengalaman ketika kuliah. Tingkat satu, saya tidak naik kelas padahal sudah belajar dengan sangat giat. Hal ini menyebabkan saya memutuskan berhenti kuliah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=14&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi dalam menempuh pendidikan tinggi, pengalaman teman dan anak yang pretasinya meningkat secara bertahap setelah menemukan kondisi yang sesuai untuk meraih prestasi belajar yang baik. Cerita ini dimulai dari pengalaman ketika kuliah. Tingkat satu, saya tidak naik kelas padahal sudah belajar dengan sangat giat. Hal ini menyebabkan saya memutuskan berhenti kuliah karena orang tua sudah pensiun dan mempunyai 9 adik yang juga sangat membutuhkan biaya sekolah. Pada saat saya dipanggil Dekan, beliau menasihati saya agar tidak berhenti kuliah karena sebenarnya saya mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan studi Sarjana. Hal tersebut hanya didasarkan pada data bahwa saya satu-satunya mahasiswa yang mendapat nilai A untuk mata kuliah kimia Analitik. Karena orang tua tidak setuju saya berhenti kuliah dan mendapat saran dari dekan agar saya tidak behenti kuliah, maka saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah, tetapi hasilnya nilai masih pas-pasan walaupun sudah belajar mati-matian. Mulai Tk III, saya yang selama kuliah tidak pernah ikut berorganisasi, mulai ikut kegiatan kemahasiswaan. Pada tingka III tersebut saya mulai mendalami agama karena terpicu isi kutbah Jum at yang materinya menggugah saya untuk mendalami agama. Setiap hari, setelah shalat, saya mengaji (saya sebut mengaji karena saya membaca Qur an dan tafsirnya) dan membaca hadist paling tidak 30 menit. Kegiatan kemahasiswaan ternyata membuat saya tidak jenuh belajar sedangkan pendalaman agama menyebabkan saya memiliki ketenangan yang luar biasa dalam menjalani hidup. Hasilnya nilai saya mulai meningkat, dan tingkat terakhir nilai saya tertinggi di Fakultas. Setahun setelah lulus, saya mendapat kesempatan mengikuti pendidikan Pasca Sarjana. Selama kuliah, kegiatan mengaji masih terus saya lanjutkan, hasilnya nilai saya cukup baik, sehingga saya direkomendasi untuk langsung ke program doctor tanpa melalui Magister. Dari pengalaman ini saya berkesimpulan (1) bahwa semua orang umumnya mempunyai kemampuan sama, segelintir orang memang pintar misalnya pak Habibie, pak Widjojo Nitisastro. Saya menyimpulkan ini karena saya yang sejak SD boleh dikatakan tidak pernah mendapat ranking di kelas, pada tingkat akhir nilai saya mengalahkan rekan yang lulusnya selalu cum laude sejak Tk I. (2) Kita harus mengenali diri kita sendiri sehingga kita mengetahui kondisi yang sesuai bagi kita untuk mencapai prestasi belajar. Untuk kasus saya tampaknya mempelajari agama memberi ketenangan yang luar biasa bagi saya sehingga saya percaya diri setiap menghadapai ujian walaupun waktu yang disediakan untuk belajar jauh lebih sedikit dibandingkan ketika saya belum menekuni agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman lain dialami oleh teman saya. Ketika tk II, nilainya jatuh, dan berakibat menurunkan kualitas kesehatan. Beberapa kali saya menemaninya ke dokter, tetapi tidak ada perubahan. Menurut analisis saya, dia mengalami stress karena harus bersaing ketat dengan teman-teman seangkatannya yang ketika SMA juga juara disekolahnya. Teman saya ini adalah pelajar teladan ketika SMA. Karena saya menyimpulkan dia stress maka saya menyarankan dan setengah memaksa dia untuk ke psikiater. Waktu itu saya belum bisa membedakan anatar psikiater dan psikolog. Saya hanya tau di tempat saya belajar ada seorang psikiater buka praktek. Ketika di psikiater dia seperti diomelin oleh psikiaternya. Menurut psikiater tersebut apabila sudah tidak mampu sekolah, lebih baik berhenti karena kasihan kepada orang tua yang mati-matian mencari uang untuk membiayai sekolah. Setelah ke psikiater tersebut, nilainya mulai membaik dan menjadi lebih sehat. Sekarang yang bersangkutan telah menjadi professor yang sering diundang ceramah diberbagai kesempatan. Dari kasus ini saya menyimpulkan, mencambuk/menantang seseorang untuk berprestasi merupakan kondisi yang idial bagi teman saya tersebut untuk mencapai prestasi belajar yang baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman lainnya adalah yang dialami oleh anak saya. Anak saya kuliah di ITB, pada saat tk I, nilainya sangat jelek, sehingga dia memutuskan untuk pindah kuliah, karena menurut dia, dia tidak mampu kuliah di ITB dan kata dia juga kalau nilainya kecil bagaimana mau mendapat kerja karena persyaratan untuk bekerja yang dia baca di Koran IPK rata-ratanya minimal 2.75. Saya memberi pandangan kepadanya bahwa kemampuan orang relative sama. Saya member contoh pengalaman saya ketika masih menjadi mahasiswa. Beberapa orang memiliki kecerdasan lebih misalnya pak Habibie dan pak Widjojo Nitisastro dan kata saya untuk mencapai keberhasilan dalam bekerja, kemampuan komunikasi dan inisiatif sangat penting. Hal tersebut bisa diperoleh kalau kita mau aktif di kegiatan kemahasiswaan atau berorganisasi. Semula dia ragu atas saran saya tersebut, karena nilainya kecil koq bukan disuruh belajar lebih giat malah disusuh aktif dikampus. Saya meyakinkan dia dengan berbagai contoh orang yang berhasil meniti karier walaupun prestasi belajarnya kurang baik. Akhirnya dia tetap kuliah di ITB, dan mulai aktif di kampus, hasilnya nilainya secara bertahap meningkat, sehingga pada semerter 6, IPKnya mencapai 3.70. Anak saya adalah anak tunggal, mungkin dia stress berpisah dengan orang tua sehingga tidak bisa belajar dengan baik walaupun sudah berusaha sekuat tenaga. Anak saya senang berorganisasi ketika masih si SMA. Dua hal tersebut yang menyebabkan saya meminta dia aktif di kampus, karena dengan aktif di kampus dia bisa mengurangi stress yang dialami atau dia dapat lebih tenang sehingga bisa belajar dengan baik. Hasilnya seperti yang saya ceritakan yaitu naik secara bertahap dimulai dengan IPK 2,6, kemudian meningkat menjadi 3,0, meningkat lagi menjadi 3.4 dan pada semester 6 mencapai 3.70. Setelah dia merasakan hasil tersebut, dia mengatakan kepada saya bahwa saran pa enya benar , dia akan bisa berprestasi belajar apabila aktif berorganisasi. Di tingkat akhir, semua nilai anak saya A, dan  sidang ujian akhirnya hanya membutuhkan waktu 40 menit dari waktu 1.5 jam yang disediakan untuk ujian akhir.  Sebelum menempuh ujian akhir dia telah diterima bekerja sebuah perusahaan besar. Dari sini disimpulkan bahwa anak saya memperoleh kondisi ideal belajar dengan ikut aktif di kampus bukan hanya belajar melulu setiap hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi kesimpulan saya apabila kita sebagai orang tua/guru bisa mengenali karakter anak kita/anak didik kita, maka kita bisa mendorongnya berprestasi dalam belajar tanpa membuatnya stress atau apabila kita sebagai siswa dapat mengenali diri kita sehingga maka diharapkan kita dapat mengetahui kondisi ideal bagi kita untuk berprestasi dalam belajar, sehingga kita dapat mencapai prestasi tersebut tanpa mengalami stress atau tanpa beban.</p>
<p>Mudah-mudahan sedikit pengalaman ini dapat bermanfaat bagi orang tua/guru untuk membantu anaknya/anak didiknya mencapai prestasi belajar yang baik tanpa stress dan bermaanfaat bagi siswa untuk mencapai prestasi belajar yang baik tanpa mengalami stress dengan jalan mengenali kondisi ideal untuk belajar bagi dirinya sendiri</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budisoegi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budisoegi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budisoegi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budisoegi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/budisoegi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/budisoegi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/budisoegi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/budisoegi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budisoegi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budisoegi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budisoegi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budisoegi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budisoegi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budisoegi.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=14&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/16/berbagi-pengalaman-untuk-meningkatkan-prestasi-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49e66dd2ba889069840cd73307236312?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">budisoegi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/10/hello-world/</link>
		<comments>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/10/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 11:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budisoegi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=1&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/budisoegi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/budisoegi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/budisoegi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/budisoegi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/budisoegi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/budisoegi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/budisoegi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/budisoegi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/budisoegi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/budisoegi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/budisoegi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/budisoegi.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/budisoegi.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/budisoegi.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=budisoegi.wordpress.com&amp;blog=8946168&amp;post=1&amp;subd=budisoegi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://budisoegi.wordpress.com/2009/08/10/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/49e66dd2ba889069840cd73307236312?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">budisoegi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
